BI Bengkulu: Tren Pertumbuhan Ekonomi 3 Tahun Belakang Terus Meningkat

Bengkulu,solusi-news.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Darjana mengatakan, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2022 ini akan lebih tinggi dibandingkan 2021 lalu. Hal itu dapat terjadi sebab seluruh pihak akan saling bersinergi. Karena sinergi merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik kedepan.

“Kami perkirakan pertumbuhan ekonomi di Bengkulu tahun ini bisa mencapai angka 5 persen atau 4 persen lebih sedikit. Angka ini sangat baik, dibandingkan 2021 lalu yang tercatat sebesar 3,24 persen. Bahkan tren 3 tahun ke belakang ini terus meningkat dan mudah-mudahan berlanjut ditahun 2023,” ujar Darjana, Senin (24/10).

Peningkatan tersebut, lanjut Darjana, didukung oleh beberapa hal yakni meningkatnya konsumsi rumah tangga dan harga komoditas CPO serta batu bara.

Dengan memperkuat sinergi, pihaknya optimis perekonomian Bengkulu pada 2022 ini akan tumbuh sesuai harapan. Pertumbuhan tersebut akan didorong oleh beberapa sektor seperti meningkatnya konsumsi rumah tangga, kegiatan ekspor batubara, CPO, dan karet.

Selain itu, Pihaknya bersama dengan Pemerintah juga akan terus mendorong pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) berbasis ekspor komoditas unggulan.

“Dengan seluruh upaya tersebut, kami optimis ekonomi Bengkulu pada 2022 dan 2023 mendatang akan jauh lebih baik dari tahun ini,” ujarnya.

Tidak hanya ekonomi yang jauh lebih baik, dalam pengendalian inflasi, pihaknya juga akan terus melakukan koordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi (TPI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Diperkirakan angka inflasi akan tetap terkendali sesuai dengan target yang ditetapkan.

“Kami perkirakan inflasi Bengkulu pada 2022 ini tetap sesuai target yakni sebesar 3 plus minus 1,” jelasnya.

Dikatakan Darjana untuk pengendalian inflasi dari sisi komoditas harga pangan strategis pihaknya terus berkoordinasi dengan Pemda Kabupaten, Kota untuk terus intensif menyelenggarakan gerakan nasional pengendalian inflasi pangan.

“Kontribusi dari pangan relatif cukup besar kalu bisa itu dikendalikan seperti tadi gerakan tanam cabe, atau kerjasama antar daerah, atau dengan operasi pasar yang menjual sembako. Itu dapat mengurangi atau mengendalikan harga kebutuhan pangan,” paparnya.

Disamping itu juga, untuk yang sifatnya kebijakan pemerintah pihaknya hanya bisa menerima kecuali ada bantuan-bantuan untuk menahan daya beli masyarakat seperti BLT ataupun subsidi khususnya untuk angkutan transportasi. (R)

Leave a comment