Prayogo And Partner’s Dampingi Korban Asusila Jalur Hukum

NGANJUK, solusi-news.com – Mencuatnya pemberitaan mengenai kehamilan seorang perempuan penyandang disabilitas (tunarungu dan tunawicara) yang mengalami keterbatasan ekonomi, membuat hati Prayogo Laksono, S.H., M.H pengacara kondang asal Nganjuk tergerak untuk memberikan pendampingan hukum.

Diketahui, perempuan tersebut berinisial LG (21) warga Desa Ketawang Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Hingga saat ini, pihak keluarga masih belum tahu siapa sosok yang tega menghamili LG. Sementara usia kandungan sang gadis telah memasuki bulan kelima.

Berdasar informasi yang dihimpun kontributor Awak Media, terduga pelaku berjumlah lebih dari satu orang. Disinyalir hanya satu orang terduga pelaku yang belum berkeluarga, sementara lainnya sudah berkeluarga.

Peristiwa ini menambah deretan jumlah kasus kekerasan seksual terhadap penyandang disabilitas.

Prayogo Laksono, S.H., M.H saat ditemui Awak Media menyatakan, kasus pidana ini harus diungkap secara tuntas. Pihaknya akan melakukan pendampingan terhadap korban yang tengah hamil lima bulan.

Kasus kekerasan seksual ini tidak bisa ditoleransi, tim Prayogo and Partner’s berharap aparat penegak hukum dapat memberikan sanksi pidana berat terhadap pelaku agar terjadi efek jera, kata Prayogo saat mendampingi keluarga korban di salah satu kediaman perangkat desa setempat, Rabu (4/5/2022) malam.

Dikatakannya, pihaknya siap memberikan pendampingan hukum hingga permasalahan yang dialami LG dapat menemukan titik terang.

“Kami akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penjangkauan korban, mendampingi psikologis kepada korban dan keluarga, serta memfasilitasi rumah aman bagi korban dan keluarga,” tambah Prayogo.

Setelah melakukan langkah advokasi dan konsultasi, pihaknya kemudian akan melaporkan peristiwa tersebut guna membuat atensi dan gelar perkara di Polres Nganjuk.

“Hal ini dilakukan tentu sebagai bentuk upaya kami dalam mengawal keadilan dan kepastian hukum terhadap korban perempuan penyandang disabilitas yang melaporkan kepada kami. Jangan sampai hingga lahirnya bayi korban, nilai-nilai keadilan masih dinestapakan di Kabupaten Nganjuk yang kita cintai ini,” papar Prayogo.

Dirinya juga berharap, tidak ada stigma terhadap korban dan bahkan masyarakat harus mendukung selama proses pemulihan.

“Kami juga mendorong agar UPTD PPA Nganjuk terus melakukan pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual dengan baik. Kami akan memastikan berlangsungnya pendampingan terhadap korban untuk memulihkan trauma yang dialaminya,” sebut Prayogo.

Namun pihaknya tak menampik akan memberikan maaf kepada pelaku jika mau mengakui perbuatannya dan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya terhadap LG.

“Kami masih membuka kesempatan kepada pelaku untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Namun jika tidak ada itikad baik, sepenuhnya kami serahkan kepada aparat penegak hukum,” pungkas Prayogo.

Untuk diketahui, pelaku pemerkosaan dapat dikenakan Pasal 285 KUHP atau Pasal 286 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Reporter : Gendro

Editor :Prasetyo

Leave a comment